Find Your Park Share Your Experience Get Involved About Us

EXPERIENCE

Bali of the Capital
Taman Nasional Kepulauan Seribu
Time Visit: 20 Aug 2016 - 20 Aug 2016

Tak perlu terbang jauh untuk menikmati pantai biru berpasir putih. Itulah yang saya rasakan setelah pengalaman day trip ke Kepulauan Seribu. Bagi orang-orang di ibukota, kata 'liburan' sering kali bermakna untuk pergi ke gunung di kota tetangga atau pantai terkenal di pulau seberang. Banyak orang mengurungkan niat untuk refreshing dengan alasan harga dan jarak, padahal ada taman nasional di dekat mereka yang mudah dijangkau. 

Pengalaman saya di Kepulauan Seribu berasal berasal dari beberapa tahun silam. Ketika itu, saya diajak orang tua saya pergi dengan koleganya dari Belanda, dia menyukai kehidupan bawah laut dan sudah sering diving, pernah ke Lombok, Maldives, Bali dsb. Di Jakarta, pantai terdekat  adalah Ancol yang sayangnya sangat ramai dan airnya jauh dari jernih. Alternatif selanjutnya adalah Kepulauan Seribu, tapi belum ada diantara kami yang pernah kesana. Akhirnya kita berencana pergi untuk day trip kesana dari Pelabuhan Muara Angke.

Setelah menjemput si Belanda dari Hotel Borobudur, jam 8 kami sampai di Muara Angke Baru. Ada 2 pelabuhan, lama dan baru (disebut juga Kali Adem). Pelabuhan baru menyediakan speedboat dan lebih cepat sampai ke tujuan, sekitar 1,5 jam dibanding menggunakan kapal kayu (sekitar 3 jam perjalanan). Harga tiket per orang sekitar 40-50 ribuan, tergantung pulau yang ingin dikunjungi. Kami memilih ke Pulau Pramuka yang kapalnya datang paling cepat.

Selama diatas kapal, saya melihat bagaimana laut pelabuhan yang abu-abu keruh perlahan makin biru tua, semakin sedikit kapal yang lalu lalang. Pulau-pulaunya mulai terlihat setengah perjalanan, dan kami melewati beberapa pulau lain seperti Pulau Ayer dengan villa-villa tercabang jembatan kayu, dan Pulau Ayer (bukan Anyer!) yang berekor jalan setapak panjang.

Setibanya di Pulau Pramuka, kami yang berencana menyelam pergi ke sebuah ruko untuk menyewa snorkel dan sepatu katak. Disana juga kita harus beli tiket lagi untuk kapal yang akan mengantar ke pusat penyelaman (kenapa bukan dari pelabuhan saja saya juga bingung). Pulau Pramuka cukup kecil dan pantainya dilapisi dinding batu, tetapi airnya berwarna biru cerah dan dibawah aspal-aspal jalan pasirnya putih kekuningan. Sayangnya, saya melihat ada tumpukan sampah di beberapa sisi pulau :(

 Saya waktu itu waswas diajak menyelam karena tidak pandai renang.  Saya tetap ikut ke kapal, tapi tidak sewa peralatan sama sekali. Sampai di spot  penyelaman, beberapa turis lain sudah mengenakan peralatan pribadi mereka dan langsung terjun ke bawah air. Grup saya pun mulai menyelam juga dan saya menyesal menolak untuk ikut tadi karena melihat yang lain kelihatan asyik menyelam. Ternyata, pengemudi kapalnya punya alat cadangan. Saya pun nekat tanpa baju ganti ikut nyebur ke dasar air. Semuanya kaget melihat saya ikut tapi hanya ketawa-ketawa saja. Mata saya yang minusnya tinggi ketika menyelam hanya bisa melihat dengan kualitas buram, tapi saya menemukan gurita dan bersembunyi di belakang karang. Di sekitar situ pun airnya biru muda jernih dan ikan-ikan berwarna-warni bisa terlihat berenang dari karang ke karang. Saya yang tidak bisa berenang tetap mengambang dengan pelampung.

Sepulang dari menyelam, baju saya basah kuyup, tanpa ganti tapi saya tetap merasa puas. Kita semua makan siang dengan nasi dan ayam bakar di pulau, lalu kembali ke pelabuhan dengan speedboat. Ditengah jalan pulang, hujan turun dan kapalnya terombang ambing karena ombak makin besar. Saya awalnya takut dan berdoa sepanjang perjalanan sebelum ketiduran. Perjalanan ke Kepulauan Seribu ini menjadi pengalaman pertama saya menyelam, dan sejak itu saya mulai suka bertualang ke lokasi-lokasi alam.

Intinya, untuk kalian yang ingin ke pantai berkilauan indah tetapi tidak bisa jauh-jauh dari rumah, Kepulauan Seribu harus ada dalam bucketlist.

KIRIM PENGALAMAN