Taman Nasionalmu Bagikan Pengalamanmu Ayo Terlibat Tentang Kami

PENGALAMAN

Ranu Kumbolo Healed Me
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Waktu Kunjungan: 10 Aug 2019 - 11 Aug 2020

Kerungsingan rutinitas di Kota Bandung bulan Agustus tahun lalu membuat saya cukup jenuh dan stressful. Bagi saya, menghabiskan waktu sejenak di akhir pekan dengan berada di alam adalah keputusan yang tepat untuk merefreshdan merecharge energi agar dapat kembali menjalankan rutinitas di kemudian hari. Waktu itu yang terbersit di kepala saya adalah camping di pinggir danau would be very relaxing. Pertanyaannya, kemana? Sama siapa? Then Ranu Kumbolo surprisingly crossed my mindWell…karena ngga nemu teman yang mau diajak kesana, saya langsung googling provider camping dan tour guide pendakian Gunung Semeru. Terkadang memang ngga mudah untuk seorang perempuan dapat bepergian sendiri apalagi untuk melakukan kegiatan-kegiatan outdoor. Kita, perempuan-perempuan pecinta alam harus mau sedikit lebih repot mempersiapkan solo traveling ke alam terutama agar aman. Namun, itu bukan masalah bagi saya, mengingat sudah banyaknya provider wisata alam saat ini dengan range harga yang bervariasi dan bisa disesuaikan dengan rencana dan budget kita. 

Anyway, akhirnya setelah mengontak dan booking jasa penyedia camping dan tour guide dengan segala persiapan dan packing yang tidak sedikit, saya berangkat ke Malang dari Bandung dengan kereta sehari sebelum hari pendakian dilakuan. Perjalanan ditempuh sekitar 15 jam. Sesampainya di Malang, saya bersama peserta open trip lainnya, berangkat ke basecamp untuk sarapan dan persiapan akhir. Perjalanan dari basecamp ke trekking point Gunung Semeru dilanjutkan dengan jeep khas wisata alam Bromo Tengger Semeru (BTS) dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Secara sistem dan pengelolaan wisata, BTS ini menurut saya adalah TN yang paling established dan settled. Fasilitas ticketing yang cukup baik, toilet, mushola, ruang medical check-up dan ruang briefing pendakian, serta toko peralatan pendakian dan souvenir, semuanya tesedianya di start point Gunung Semeru. Semua hal dicek kembali sebelum pendakian dilakukan termasuk pemeriksaan kesehatan oleh tenaga medis disana dan briefing dari pengelola TN mengenai kondisi jalur pendakian dan campsite, cuaca, dan safety procedure. Tak lupa kami panjatkan doa sebelum berangkat mendaki. 

Medan pendakian, menurut saya pribadi, tergolong easy to medium; mulai dari jalur datar dengan paving block, tanah, canopy, hingga beberapa tanjakan tajam dengan vegetasi yang bervariasi sepanjang jalurnya. Cukup melelahkan memang, namun pemandangan dan suara alam di hutan bagi saya memiliki healing effect sehingga rasa lelah pun hampir tidak terasa. Sepanjang jalur pendakian juga terdapat beberapapost yang menjual minuman (kopi, teh, mineral) dan makanan (pisang goreng, semangka, mie instan, dsb), lumayan untuk icip-icip sambil duduk istirahat. Pendakian selama kurang lebih 5 jam pun akhirnya terbayar dengan pemandangan matahari tenggelam yang luar biasa menajubkan di perkemahan Ranu Kumbolo. That feeling when we are witnessing breathtaking view was real at that time. Belum selesai sampai disitu, Ranu Kumbolo memberikan kejutan lainnya, its sunrise that I witnessed the next morning was the best scenery I have ever seen in my entire life. Buat saya ini adalah puncak refreshment dalam perjanalan saya; banyak sekali kontemplasi dan rasa syukur yang ikut bersama waktu hening kala menikmati alam saat itu. I can’t ask for more. Matahari lalu beranjak meninggi dan keindahan kuningnya tanjakan cinta dan hijaunnya air Ranu kumbolo mulai terlihat. Saya menghabiskan waktu menyusuri danau dan menyempatkan ke kaki tanjakan cinta sebelum packing dan siap kembali ke basecamp. Walau singkat dan terasa begitu cepat, saya sangat menikmati akhir pekan saya waktu itu di Ranu Kumbolo dengan berbagai keindahan yang disuguhkannya. Saya kembali ke Bandung dengan selamat dan melajutkan rutinitas dengan perasaan yang jauh lebih baik. Nothing ever lasts, but that amazing experience staysin my memory. And on top of thatforest healed me.

 

Salam lestari,

Afaf Ashari – Nature enthusiast, lifetime traveler.  

KIRIM PENGALAMAN